Senin, 05 Oktober 2015

Salah

Manusia memang ditakdirkan untuk selalu salah, itu sebabnya Tuhan Maha Pemaaf. Ya, meski kita sudah berusaha sebaik mungkin melakukan semua hal, tetap saja itu adalah hal terbaik versi kita sendiri. Di mata orang lain, masih saja kita melakukan kesalahan. Tapi, itulah hidup. Seberapa besar usaha kita memberikan yang terbaik, tetap saja kita adalah makhluk yang tak pernah luput dari salah.
Bagaimana rasanya? Sedih, marah, kesal? Pasti kita semua merasakan hal itu. Wajar.
Tapi, setidaknya, kita harus ikhlas. Ikhlas dan menerima bahwa kita memang ditakdirkan untuk melakukan salah. Asal, jangan pernah mau melakukam kesalahan yang sama dan tetap lakukan segala sesuatu dengan versi terbaik kita.

Senin, 14 September 2015

Menerima

Sebuah kata yang cukup simpel tapi snagat sulit untuk dilakukan. Menerima. Ya, bagi saya, menerima adalah hal yang snagat sulit dilakukan. Tumbuh dengan sifat emosi yang kurang stabil membuat saya sulit untuk menerima. Menerima bahwa saya harus berpisah dengan teman-teman saya. Menerima bahwa saya tak bisa lagi tinggal bersama keluarga saya. menerima bahwa memang inilah kehidupan yang telah saya pilih sebelumnya.
Sulit memnag untuk saya lakukan, tapi saya tak punya pilihan lain selain menerima. Ya, hanya itu yang harus saya lakukan saat ini. Menerima dengan ikhlas kehidupan yang saya jalani saat ini.
Tapi, lama kelamaan saya belajar untuk menerima dengan sisi yang sebaliknya. Saya belajar menerima bahwa saya sangat beruntung berhasil menempuh sekolah di tempat yang dari dulu saya inginkan. Saya mencoba menerima bahwa saya memang sudah dianggap dewasa untuk hidup mandiri jauh dari keluarga. Saya juga berusaha menerima bahwa teman-teman saya dulu telah sibuk, dan kini saya mendapatkan tak hanya teman, tapi saudara selama saya hidup di sini. Ya, menerima memang sulit, tetapi bukan berarti tak bisa kita lakukan.
Saat menulis ini, saya memang belum sepenuhnya menerima dengan ikhlas kehidupan yang sedang saya jalani. Namun, saya sedang berusaha untuk menerima dengan sepenuh hati bahwa di sinilah saya sekarang. Terkadang, hidup memang tidak seperti yang kita inginkan, tapi jangan pernah sesali itu. Sebaliknya, pikirkanlah hal terbaik dalam hidupmu saat ini dan cobalah untuk menerimanya. Tak perlu memiliki hidup yang sempurna untuk menjadi orang yang bahagia, cukup menjadi seorang yang selalu menerima dengan ikhlas kehidupan yang telah Tuhan hadiahkan, dan kita akan diliputi kebahagian. Yah, hidup memang sesederhana itu. Kita saja yang terkadang membuatnya terasa sulit.
Mulai saat ini, cobalah untuk menerima...

Senin, 29 Juni 2015

Belajar Menghafal

Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini adalah tahun pertama saya menjalankan ibadah puasa di asrama. Tak ada lagi sahur bersama kakak, jalan sore untuk ngabuburit bersama kakak dan temna-teman, buka bersama teman-teman, dan lain sebagainya. Bulan Ramadhan kali ini saya harus berada di asrama, tak ada acara buka di luar. Ya, benar-benra suasana yang berbeda. Saya merasa sangat merindukan suasana Ramadhan tahun lalu, saat saya masih bebas bepergian keluar masuk rumah.
Namun, satu hal yang saya hanyut dalam Ramadhan tahun ini. Saya mulai belajar menghafal ayat dari kitab suci. Ya, setiap pagi setelah shalt subuh berjamaah di mushola kampus, ada kegiatan yang bertema One Day One Ayat, yaitu kegiatan dimana kita wajib mencoba menghafal minimal satu ayat dari Al Qur'an.
Entah mengapa, saya merasa hanyut ketika kata demi kata dalam bahasa Arab yang sama sekali tidak saya mengerti terasa mengalir keluar dari mulut ketika saya mencoba belajar menghafal. Memang, dibandingkan dengan teman0teman lain yang sudah sangat hafal, saya tak dapat dibandingkan. Hanya menghafal empat ayat pertama dari surah Ar Rohman pun setengah mati rasanya saya menghafal. Benar-benar sulit.  Tetapi, Saya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika saya menghafal ayat-ayat tersebut. Memang sangat sulit, tapi saya justru merasa tenang dalam kesulitan itu. Saya merasa seperti sedang mengeja apa yag telah Tuhan katakan pada saya. Meski terbata, tapi ada rasa ingin memahami apa yang telah Ia katakan.
Bila ada satu hal yang saya inginkan pada Ramadhan ini, saya ingin terus belajar menghafal. Kata demi kata dari Tuhan ingin saya hafal, meski terbata.

Senin, 01 Desember 2014

Seorang Saudara

Saya mempunyai seorang kakak perempuan yang usianya hanya 22 bulan lebih tua dari saya. Ya, beda umur yang tidak terlalu jauh itu membuat kami selalu bertengkar. Ada banyak hal kecil yang dapat menyulut api pertengkaran. Dulu saat kami masih tinggal bersama, sering saya merasa tidak betah menjadi satu dengan kakak saya, bahkan begitu banyaknya perbedaan antara saya dan kakak saya, saya ragu apakah kami berdua benar-benar saudara kandung.
Akan tetapi, setelah beberapa bulan saya berpisah dari kakak saya, saya justru mulai merindukannya. Terlebih lagi ketika saya meminta tolong padanya untuk mengirimkan beberapa paket, dengan cepat ia mencarikan dan langsung mengirimkannya untuk saya. Saya juga bingung bagaimanaia punya waktu memikirkan saya di tengah kesibukannya praktek dan menyusun tugas akhir. Saya benar-benar merasa aneh dengan perhatiannya, padahal kakak saya bukan orang yang perhatian dengan orang lain. Selama saya tinggal bersamanya, hampir tidak pernah ia menunjukkan perhatiannya kepada saya secara langsung.
Jujur setelah saya menerima paket yang dikirimkan oleh kakak saya, saya menjadi terharu. Seorang kakak yang selama ini saya ragukan ternyata seorang kakak yang luar biasa. Ya, dia benar-benar kakak kandung saya. Mungkin selama ini kami tidak pernah menunjukkan bahwa kami saling menyayangi, kami juga terlalu gengsi untuk mengatakan sayang satu sama lain secara langsung. Tapi melalui tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa saya menyayanginya. Ya, dialah kakak yang selama ini saya sayangi meski selalu dihiasi pertengkaran diantara kami. Melalui tulisan ini juga saya ingin mengatakan bahwa seorang saudara akan menyadari bahwa ia menyayangi saudaranya saat ia berada jauh dari saudaranya terbukt benar. Ya, terbukti benar bahwa saya benar-benar menyayangi kakak perempun saya, dan saya berharap kami dapat bertemu sesegera mungkin. Ya, mudah-mudahan libur akhir tahun ini saya mendapat kesempatan pulang dan kembali melakukan hal konyol bersama Nikkolina Ayu Kiku Larasati, my worst but the best elder sister.

Senin, 21 Juli 2014

Sepenggal Catatan di Rumah Tuhan

Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan beberapa hari di Bogor, tepatnya Parung. Setelah menghabiskan empat malam di sana saya bersama seorang teman baru dari Purwokerto memutuskan untuk pulang bersama. Ya, perjalanan selama semalaman tidak akan saya lakukan seorang diri, maka dari itu saya memilih pulang bersama teman saya. Sesuai rencana yang telah kami susun sebelumnya, saya berangkat dari Parung sekitar pukul tiga sore, naik kendaraan umum menuju Terminal Lebak Bulus. Karena macetnya jalan ibu kota, saya baru tiba di terminal sekitar pukul lima sore. Bagi saya, itu adalah perjalanan yang sangat lama karena jaraknya tidak terlalu jauh. Bila di Yogyakarta, jarak itu dapat ditempuh hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
Sesampainya di terminal, banyak sekali calo-calo berkeliaran mengelilingi kami untuk menawarkan tiket dengan harga ‘murah’. Karena kami sudah pernah melakukan perjalanan yang sama sebelumnya, kami acuhkan saja calo-calo tersebut, dan langsung berjalan ke arah masjid di terminal tersebut diiringi gerutuan para calo.
Ternyata, kami melakukan sebuah kesalahan. Sebelumnya, kami belum memesan tiket bus, sehingga kami harus menunggu bus malam terakhir yang akan tiba hari itu. Bus yang akan kami naiki akan tiba sekitar pukul setengah delapan malam. Ya, ternyata kami harus berbuka puasa di masjid Terminal Lebak Bulus. Awalnya memang saya merasa aneh dan jenuh bila harus berbuka puasa di tempat seperti itu. Bayangkan saja, saat rasa haus mulai menyerang setelah terjebak macet dan tangan yang mulai lelah membawa tas yang sangat berat, kami harus menunggu waktu berbuka di tengah-tengah teriakan calo, pedagang asongan, dan entah teriakan apa lagi. Benar-benar sebuah ujian yang sangat berat bagi saya, mengingat selama ini pemahaman saya mengeai agama sangat kurang.
Lima menit terasa sangat lama, seolah-olah kami telah menunggu selama berjam-jam. Setelah penantian yang sangat panjang dan melelahkan, akhirnya bedug di masjid dipukul, adzan pun dikumandangkan oleh muadzin. Rasanya lega, semua rasa lelah hilang seketika. Kami memutuskan untuk duduk di serambi masjid untuk minum sekedar membatalkan puasa. Air mineral yang kami teguk terasa sangat menyegarkan kerongkongan. Ya, itulah kenikmatan berbuka puasa, minuman apapun mampu menyegarkan dan menghilangkan rasa dahaga seketika.
Tiba-tiba, salah seorang takmir masjid itu memberikan kami masing-masing segelas kolak dan sepiring makanan kecil sekedar untuk mengganjal perut saat berbuka. Kami benar-benar tak menyangka, di tengah-tengah tempat yang menurut kami ‘keras’, masih ada banyak kebaikan dari beberapa orang di sekeliling kami.

Seketika, saya langsung merasa tersentuh. Ternyata, tempat yang ‘keras’ bukan berarti tempat yang sama sekali tak ramah. Masih ada orang yang peduli pada sesama, yang tidak hanya mementingkan diri sendiri. Masih ada orang yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata. Yang lebih membuat saya tersentuh, semua itu saya alami di sebuah masjid. Tempat ibadah yang selama ini jarang sekali saya kunjungi. Ya, Tuhan telah membuka mata hati saya. Tuhan telah mengajarkan pada saya untuk tetap peduli pada sesama dimanapun saya berada. Juga mengingatkan saya untuk sering mengunjungi rumah Tuhan, karena hanya di rumah-Nya lah kita dapat merasa aman dan tentram.

Minggu, 29 Juni 2014

Sebuah Pilihan

Seorang penulis yang sangat saya kagumi telah memilih jalan hidupnya. Ia seorang Pengagum Senja yang telah menyadarkan saya apa itu hidup. Bagi dirinya, hidup adalah mengekspresikan diri dan pikiran melalui sebuah tulisan. Tak perlu tulisan yang panjang, yang penting bermakna. Lewat tulisan-tulisannya, saya menjadi sadar bahwa menulis adalah bagian dari hidup saya yang telah lama terlupakan. Semenjak bertemu dengannya, saya menjadi semangat untuk menulis, menulis apa saja untuk mencurahkan ekspresi saya. Selama dua bulan bertemu dengannya, saya mulai menyadari bahwa saya sangat mengaguminya, seperti ia mengagumi senja. Meskipun ia tak pernah tahu keberadaan saya selama ini, saya tetap mengaguminya. Sayangnya, kami berdua hanyalah dua buah garis yang berpotongan. Hanya mampu bertemu di satu titik, tapi tak dapat bertemu lagi. Kabar yang saya tahu, setelah lulus SMA, ia melanjutkan ke Seminari Menengah, menjalani kelas persiapan selama satu tahun. Bulan April lalu, ia telah lulus dari Seminari Menengah, dan ia mendaftar di Jesuit. Ia diterima, dan sekarang ia resmi menjadi seorang frater. Tanggal 21 Juni lalu, ia telah berangkat untuk memulai menempuh pendidikan agar ia siap menjadi seorang pater. Ya, ia telah memilih jalan hidupnya untuk berkarya dalam nama Tuhan, bekerja di ladang-Nya. Mungkin sebuah pilihan yang terasa berat bagi kita sebagai orang awam, tapi saya yakin ia telah menentukan pilihan itu sesuai hati nuraninya.

Selamat jalan Pengagum Senja, kau akan selalu kukagumi, dan tulisanmu akan selalu kutunggu. Semoga kita dapat bertemu lagi di lain waktu, dan sampai saat itu aku akan tetap menjadi pengagummu. Selamat jalan, selamat berjuang, fr. Raymondus Braja Restu SJ.