Senin, 26 Oktober 2015

Terima Kasih atas Senyum-Mu

Terima kasih atas senyum-Mu pagi ini, akan kujadikan sebagai payung mentari, tempat rinduku mendarat dengan hati-hati. Terkadang, kita lupa berterima kasih atas pagi hari yang telah kita lalui. Kita justru sering menggerutu di pagi hari, mengeluhkan tentang padatnya jadwal hari ini, mengeluh tentang waktu tidur yang masih kurang, dan masih banyak lagi. Seolah-olah, pagi hari adalah waktu untuk mengeluhkan segala hal yang belum terjadi di hari ini, dan pada malam hari, gerutuan kita makin bertambah karena hari yang kita lalui benar-benar buruk. Manusia memang aneh. Ya, manusia selalu mengeluhkan apa yang belum terjadi, dan bila semua keluhan itu benar-benar terjadi, mereka akan mengeluh juga. Pernahkah kalian berpikir, bahwa keluhan itu tak ada artinya sama sekali? Keluhan yang keluar dari mulut kita hanya akan menambah daftar panjang kesialan kita. mengapa kita tak mencoba untuk mengubah keluhan kita di pagi hari dengan ucapan terima kasih pada Tuhan? Rasa terima kasih kita karena kita masih bisa hidup, bernafas, dan diberi kekuatan untuk menjalani pagi ini. Cobalah berterima kasih di pagi hari, karena Tuhan telah memberi senyuman-Nya untuk memberi kita semangat menjalani hari, memberi kita energi untuk melakukan tugas kita sebagai makhluk-Nya.

Minggu, 25 Oktober 2015

Senin

Senin. Apa yang salah denga hari Senin ? Mengapa semua orang tak pernah menyukai hari Senin ? Ya, Senin adalah hari yang cukup menyebalkan. Setelah bersenang-senang selama akhir pekan, malas sekali rasanya memulai hari panjang yang melelahkan. Sebagai mahasiswa, saya pun sering merasa malas bertemu hari Senin. Pada hari Senin, jadwal pelajaran penuh dari jam delapan pagi hingga jam empat sore. Belum lagi tugas dan deadline yang diberikan oleh dosen rata-rata jatuh pada hari Senin. Setelah bersantai di akhir pekan, rasanya malas sekali memulai awal minggu dengan penuh 'perjuangan'. Sebenarnya, Senin tidak ada bedanya denga hari lain. Senin sama saja dengan Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Hanya sebuah nama yang menunjukkan waktu selama dua puluh empat jam. Dan waktu di hari Senin pun akan berjalan dengan sangat cepat, asal kita memulainya dengan senang. Mungkin ini terdengar klise, tapi cobalah tersenyum di hari Senin pagi, dan jalani saja waktumu. Entah itu melelahkan, membosankan, maupun menyenangkan, jalani saja.

Senin, 12 Oktober 2015

Aku Ingin Mencintaimu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan epada hujan yang menjadikannya tiada.

Ya, kadang rasa sayang itu sangat sederhana. Tak perlu rumit, yang penting tulus saja. Sayangnya, kita sendiri yang menyebabkan rasa itu menjadi rumit. Tapi tetap saja, menyayangi itu karunia terindah dari Tuhan.

Senin, 05 Oktober 2015

Salah

Manusia memang ditakdirkan untuk selalu salah, itu sebabnya Tuhan Maha Pemaaf. Ya, meski kita sudah berusaha sebaik mungkin melakukan semua hal, tetap saja itu adalah hal terbaik versi kita sendiri. Di mata orang lain, masih saja kita melakukan kesalahan. Tapi, itulah hidup. Seberapa besar usaha kita memberikan yang terbaik, tetap saja kita adalah makhluk yang tak pernah luput dari salah.
Bagaimana rasanya? Sedih, marah, kesal? Pasti kita semua merasakan hal itu. Wajar.
Tapi, setidaknya, kita harus ikhlas. Ikhlas dan menerima bahwa kita memang ditakdirkan untuk melakukan salah. Asal, jangan pernah mau melakukam kesalahan yang sama dan tetap lakukan segala sesuatu dengan versi terbaik kita.

Senin, 14 September 2015

Menerima

Sebuah kata yang cukup simpel tapi snagat sulit untuk dilakukan. Menerima. Ya, bagi saya, menerima adalah hal yang snagat sulit dilakukan. Tumbuh dengan sifat emosi yang kurang stabil membuat saya sulit untuk menerima. Menerima bahwa saya harus berpisah dengan teman-teman saya. Menerima bahwa saya tak bisa lagi tinggal bersama keluarga saya. menerima bahwa memang inilah kehidupan yang telah saya pilih sebelumnya.
Sulit memnag untuk saya lakukan, tapi saya tak punya pilihan lain selain menerima. Ya, hanya itu yang harus saya lakukan saat ini. Menerima dengan ikhlas kehidupan yang saya jalani saat ini.
Tapi, lama kelamaan saya belajar untuk menerima dengan sisi yang sebaliknya. Saya belajar menerima bahwa saya sangat beruntung berhasil menempuh sekolah di tempat yang dari dulu saya inginkan. Saya mencoba menerima bahwa saya memang sudah dianggap dewasa untuk hidup mandiri jauh dari keluarga. Saya juga berusaha menerima bahwa teman-teman saya dulu telah sibuk, dan kini saya mendapatkan tak hanya teman, tapi saudara selama saya hidup di sini. Ya, menerima memang sulit, tetapi bukan berarti tak bisa kita lakukan.
Saat menulis ini, saya memang belum sepenuhnya menerima dengan ikhlas kehidupan yang sedang saya jalani. Namun, saya sedang berusaha untuk menerima dengan sepenuh hati bahwa di sinilah saya sekarang. Terkadang, hidup memang tidak seperti yang kita inginkan, tapi jangan pernah sesali itu. Sebaliknya, pikirkanlah hal terbaik dalam hidupmu saat ini dan cobalah untuk menerimanya. Tak perlu memiliki hidup yang sempurna untuk menjadi orang yang bahagia, cukup menjadi seorang yang selalu menerima dengan ikhlas kehidupan yang telah Tuhan hadiahkan, dan kita akan diliputi kebahagian. Yah, hidup memang sesederhana itu. Kita saja yang terkadang membuatnya terasa sulit.
Mulai saat ini, cobalah untuk menerima...

Senin, 29 Juni 2015

Belajar Menghafal

Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini adalah tahun pertama saya menjalankan ibadah puasa di asrama. Tak ada lagi sahur bersama kakak, jalan sore untuk ngabuburit bersama kakak dan temna-teman, buka bersama teman-teman, dan lain sebagainya. Bulan Ramadhan kali ini saya harus berada di asrama, tak ada acara buka di luar. Ya, benar-benra suasana yang berbeda. Saya merasa sangat merindukan suasana Ramadhan tahun lalu, saat saya masih bebas bepergian keluar masuk rumah.
Namun, satu hal yang saya hanyut dalam Ramadhan tahun ini. Saya mulai belajar menghafal ayat dari kitab suci. Ya, setiap pagi setelah shalt subuh berjamaah di mushola kampus, ada kegiatan yang bertema One Day One Ayat, yaitu kegiatan dimana kita wajib mencoba menghafal minimal satu ayat dari Al Qur'an.
Entah mengapa, saya merasa hanyut ketika kata demi kata dalam bahasa Arab yang sama sekali tidak saya mengerti terasa mengalir keluar dari mulut ketika saya mencoba belajar menghafal. Memang, dibandingkan dengan teman0teman lain yang sudah sangat hafal, saya tak dapat dibandingkan. Hanya menghafal empat ayat pertama dari surah Ar Rohman pun setengah mati rasanya saya menghafal. Benar-benar sulit.  Tetapi, Saya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika saya menghafal ayat-ayat tersebut. Memang sangat sulit, tapi saya justru merasa tenang dalam kesulitan itu. Saya merasa seperti sedang mengeja apa yag telah Tuhan katakan pada saya. Meski terbata, tapi ada rasa ingin memahami apa yang telah Ia katakan.
Bila ada satu hal yang saya inginkan pada Ramadhan ini, saya ingin terus belajar menghafal. Kata demi kata dari Tuhan ingin saya hafal, meski terbata.

Senin, 01 Desember 2014

Seorang Saudara

Saya mempunyai seorang kakak perempuan yang usianya hanya 22 bulan lebih tua dari saya. Ya, beda umur yang tidak terlalu jauh itu membuat kami selalu bertengkar. Ada banyak hal kecil yang dapat menyulut api pertengkaran. Dulu saat kami masih tinggal bersama, sering saya merasa tidak betah menjadi satu dengan kakak saya, bahkan begitu banyaknya perbedaan antara saya dan kakak saya, saya ragu apakah kami berdua benar-benar saudara kandung.
Akan tetapi, setelah beberapa bulan saya berpisah dari kakak saya, saya justru mulai merindukannya. Terlebih lagi ketika saya meminta tolong padanya untuk mengirimkan beberapa paket, dengan cepat ia mencarikan dan langsung mengirimkannya untuk saya. Saya juga bingung bagaimanaia punya waktu memikirkan saya di tengah kesibukannya praktek dan menyusun tugas akhir. Saya benar-benar merasa aneh dengan perhatiannya, padahal kakak saya bukan orang yang perhatian dengan orang lain. Selama saya tinggal bersamanya, hampir tidak pernah ia menunjukkan perhatiannya kepada saya secara langsung.
Jujur setelah saya menerima paket yang dikirimkan oleh kakak saya, saya menjadi terharu. Seorang kakak yang selama ini saya ragukan ternyata seorang kakak yang luar biasa. Ya, dia benar-benar kakak kandung saya. Mungkin selama ini kami tidak pernah menunjukkan bahwa kami saling menyayangi, kami juga terlalu gengsi untuk mengatakan sayang satu sama lain secara langsung. Tapi melalui tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa saya menyayanginya. Ya, dialah kakak yang selama ini saya sayangi meski selalu dihiasi pertengkaran diantara kami. Melalui tulisan ini juga saya ingin mengatakan bahwa seorang saudara akan menyadari bahwa ia menyayangi saudaranya saat ia berada jauh dari saudaranya terbukt benar. Ya, terbukti benar bahwa saya benar-benar menyayangi kakak perempun saya, dan saya berharap kami dapat bertemu sesegera mungkin. Ya, mudah-mudahan libur akhir tahun ini saya mendapat kesempatan pulang dan kembali melakukan hal konyol bersama Nikkolina Ayu Kiku Larasati, my worst but the best elder sister.