Selasa, 10 November 2015

Tak Sempurna

Kita sudah melakukan yang terbaik, tapi masih saja selalu dianggap kurang. Kita sudah merelakan segala hal yang kita punya, tapi mereka tak pernah puas. Kita sudah melakukan dengan benar, tetapi masih saja selalu disalahkan. Ya, itulah manusia. Entah mengapa dan bagaimana, semua hal tak pernah dianggap sempurna oleh manusia. Padahal, manusia itu sendiri yang memang tak pernah sempurna. Tapi yakinlah, Tuhan Yang Mahasempurna selalu mengajarkan kita untuk menerima dengan ikhlas ketidaksempurnaan kita. Manusia memang tak ada yang sempurna, tapi cobalah untuk menerima ketaksempurnaan itu. Kurangilah menuntut yang terbaik dan sempurna, agar kita tidak merasa kecewa di akhir nanti. Terima dengan lapang dada apa yang menjadi kekurangan kita, dan berusahalah untuk memberikan yang terbaik. Biarkan saja orang lain mencibir ketidaksempurnaanmu saat kau telah berusaha sebaik mungkin. Sadarilah kita memang tak pernah sempurna, namun ketidaksempurnaan itulah yang membuat dunia semakin indah dengan saling melegkapi.

Selasa, 03 November 2015

Jogja, Never Ending Story

Jogja, tempat yang aku tuju saat aku pulang. Banyak cerita disana, sedih, senang, konyol, dan masih banyak lagi. Dan yang pasti, ia selalu menyambutku dengan ramah saat aku pulang. Jogja, banyak cerita yang tak akan pernah habis di sana. Karena di setiap sudut Jogja pasti ada cerita.

Senin, 02 November 2015

Laut dan Ombak

Sejenak pikiranku terantuk baru karang dan tenggelam ke dasar laut, merasakan kesegaran air yang meresap ke dalam pori-pori kulitku. Begitu juga dengan-Nya, yang selalu ada, meresap lewat pori-pori jiwa dan membuatku yakin bahwa lahir dan perjuanganku untuk hidup di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Sebenarnya, ilmu yang kumiliki samasekali tidak cukup untuk mengenal-Nya seutuhnya. Namun, Dia mengenalku, bahkan lebih dari aku mengenal diriku sendiri. Mungkin aku tak bisa melihat-Nya yang sedang menatapku dari jauh, namun desir ombak yang menerpa kakiku sedang memberi pesan bahwa Ia sebenarnya berada di sisiku. Aku memang tidak cukup rendah hati untuk membagi sedikit kasih sayangky pada-Nya, seperti limpahan kasih sayang-Nya padaku yang tak pernah habis. Langit boleh saja menutup tirai senja, tetapi kasih sayang-Nya tidak akan tertutup selamanya. Terima kasih, untuk kasih-Mu yang dulu, selalu, dan melulu.

Rabu, 28 Oktober 2015

Sang Arsitek

Pada saat saya duduk di kelas dua SMA, saya dan teman-teman pernah mencoba untuk membantu saudara kita yang kurang beruntung. Minimal satu kali dalam seminggu, kami mengunjungi SLB B yang letaknya tak jau dari SMA. Apa yang kami lakukan di sana hanya sekedar berbagi apa yang kami punya. Terkadang, kami mencoba mengajar adik-adik yang tunarungu, meskipun lebih banyak kami yang belajar dari mereka. Berinteraksi dengan mereka membuat kami makin sadar bahwa Tuhan Arsitek Yang Agung. Dibalik kekurangan, pasti ada kelebihan yang Ia beri untuk dapat dibanggakan. Salah satu teman di SLB tersebut telah membuktikannya pada kami. Ya, dibalik fisiknya yang tak seperti kami, ia menyimpan bakat yang luar biasa. Ia memiliki bakat untuk menuangkan imajinasinya di atas kanvas. Banyak hasil lukisannya yang telah menjadi juara dari tingkat lokal hingga nasional. Tak hanya itu, banyak kolektor yang membeli lukisannya untuk dijadikan koleksi. Ya, oragtuanya pasti sangat bangga terhadap bakt yang ia miliki. Di tengah keterbatasan, ia mampu mengembangkan bakatnya. Jujur, seringkali saya berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil. Akan tetapi, piiran saya langsung hilang seketika bila mengingat pengalaman saya di SLB dulu. Tuhan adalah sang Arsitek yang telah merancang dunia ini dengan akurat. Tak ada satu pun makhluk-Nya yang Ia biarkan menderita. Ia telah merancang bahwa semua ciptaan-Nya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Memang terdengar klise, tapi percayalah, hidup kita telah Ia rancang dengan sempurna, tanpa cela sedikitpun. Hanya terkadang, kita sebagai manusia yang kurang bersyukur dan kurang percaya terhadap kehebatan-Nya. Cobalah untuk yakin bahwa Ia memang Arsitek dalam hidup kita, jalani saja sesuai dengan rancangan-Nya. Dan cobalah untuk terus bersyukur.

Selasa, 27 Oktober 2015

Karena senja datangnya tak selalu, ajarkan aku bagaimana cara menghentikan waktu.

Sumpah atau Sampah Pemuda ?

Delapan puluh tujuh tahu lalu, banyak pemuda berusia dua puluhan berkumpul dan membahas arah dan tujuan bangsa ini. Mereka sudah merencanakan akan diapakan negara ini kelak. Hasilnya? Pembacaan ikrar Sumpah Pemuda yang menyatukan mereka dalam nama persatuan. Soekarno, Sutan Sjahrir, Muh. Yamin, dan masih banyak lagi para pendiri bangsa ini yang umurnya terbilang masih sangat muda telah menghasilkan rencana mengenai bangsa ini, padahal kejadian itu jauh sbeelum Indonesia Merdeka. Ya, meskipun mereka masih merasakan kejamnya kekuasaan penjajahan, mereka telah memiliki pandangan ke depan terhadap masa depan ibu pertiwi. Rasanya, bangga sekali memiliki pendiri bangsa seperti mereka. Akan tetapi, bagaimana dengan saat ini? Di usia yang hampir sama dengan para pendiri bangsa ini, saya merasa saya belum menghasilkan apa-apa untuk ibu pertiwi. Jangankan memikirkan bagaimana negeri ini kelak, memikirkan bagaimana saya mampu bertahan di tempat saya sekolah saja rasanya sulit sekali. Padahal, saya tidak merasakan kejamnya penjajahan. Saya bisa dengan mudah mengakses informasi dari berbagai media, bebas untuk berpikir, dan mengeluarkan pendapat saya. Namun, tak sedikit pun terbesit di pikiran saya mengenai bangsa ini. Mari kita sejenak melupakan masalah pribadi kita, dan cobalah untuk membuka mata, melihat keadaan bangsa ini. Bila delapan puluh tujuh tahun lalu pemuda seusia kita berkumpul dan membahas masa depan bangsa, apa yang dilakukan oleh sebagian besar pemuda bangsa ini? Tawuran antarpelajar, pergaulan bebas, narkoba, bullying di sekolah, dan masih banyak lagi perbuatan para pemuda bangsa yang menyedihkan. Di alam kemrdekaan ini, keadaan kita justru lebih terpuruk. Tak ada bedanya dengan sampah yang justru menjadi beban bagi negara. Saya pernah membayangkan, bila pemuda angkatan 1928 hadir saat ini, apa yang mereka pikirkan melihat kenyataan saat ini? Akankah mereka merasa bangga dengan kita, generasi penerus mereka? Saya rasa tidak. Justru mereka akan merasa kecewa melihat apa yang terjadi saat ini. Ikrar Sumpah Pemuda yang mereka tanam dalam diri demi mencapai Indonesia merdeka, kini telah hilang dalam diri pemuda saat ini. Ya, pembacaan Ikrar Sumpah Pemuda hanya menjadi 'tradisi' yang harus dilakukan dalam upacara peringatan Sumpah Pemuda. tak lagi dihayati, tak lagi diresapi. Ironis memang. Di hari Sumpah Pemuda ini, cobalah pikirkan. Apa yang bisa kita perbuat untuk meneruskan perjuangan para pendiri bangsa kita? Bila kita belum melakukannya, maukah kita memulainya saat ini juga? Sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab, hanya perlu direnungkan dan disikapi dengan bijak.