Senja. satu kata sederhana yang tak lagi dihiraukan. Mungkin, sebagian orang telah melupakan keberadaannya. Tapi tidak untukmu. Bagimu, senja adalah waktu terindah dalam dua puluh empat jam. Senjalah yang menghubungkan siang dan malam. Jembatan antara matahari dan bulan. Senja memang tak sebenderang siang, juga tak sepekat malam. Namun, senja selalu memberi arti yang mendalam bagimu. Saat tak seorangpun menyadari kehadiran senja, kau selalu setia menanti senja. Meski hanya tampak dalam hitungan menit, kau tetap menikmati kehadirannya. Warna senja yang indah begitu memukaumu. Entah merah muda atau nila, kau tak tahu apa namanya. Akan tetapi, bagimu itu tak penting karena kau yakin, semua yang indah tak selalu bernama, tapi pasti memberi makna.
Namun, senja tetaplah senja. Seberapapun besarnya kekagumanmu terhadap senja, kau tak dapat memilikinya. Kesetiaanmu menanti hadirnya senja tak mampu membantumu untuk meraih senja. Kau hanya mampu menikmati senja dari jauh. Hanya sanggup menyaksikan keindahannya tanpa sanggup menggenggamnya. Dan tetap saja, kau masih setia menanti hadirnya senja. Seperti aku yang selalu mengagumimu dari jauh, tanpa mampu meraihmu. Namun, aku akan tetap setia mengagumimu, seperti dirimu yang selalu mengagumi senja. Meski pada akhirnya aku tak dapat meraihmu, aku akan selalu mengagumimu dari tempatku berdiri, dari tempat yang tak mungkin kau sadari.
Sabtu, 04 Januari 2014
Rabu, 01 Januari 2014
Tahun 2014 menjadi tahun yang cukup penting untukku. Sebagai pelajar SMA kelas XII, tahun ini aku harus menhadapi Ujian Nasional. Tak hanya itu, masa depanku juga ditentukan tahun ini. Menjadi apa aku nanti, tahun inilah yang akan menjawabnya. Memilih universitas, menghadapi SBMPTN, dan banyak lagi kegelisahan siswa kelas XII pada umumnya. Tahun 2014 ini aku hanya berharap aku dapat menjadi seorang manusia yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, aku dapat menghadapi apa saja yang harus kujalani di tahun 2014. Amin,
Jumat, 08 November 2013
Sebuah Kepergian
Siang ini aku benar-benar mendapat kabar yang mengejutkan sekaligus menyedihkan. Seorang adik kelas bernama There telah berpulang siang tadi. Kemarin ia mengalami kecelakaan dan koma, ternyata siang tadi sekitar pukul 13.00 ia telah menghembuskan nafas terakhir. Padahal, hari Selasa kemarin aku baru saja berbicara dengannya. Ia duduk tepat di belakang kursiku saat Diklat OSIS dan MPK 2013/2014. Jujur, aku belum percaya There sudah tak di sini lagi. Rasanya seperti mimpi karena kepergian There begitu cepat.
Umur manusia memang misteri. Kita tak pernah tahu kapan kontrak kita di dunia ini berakhir. Sebagai remaja, selama ini aku selalu merasa umurku masih panjang dan aku selalu menyia-nyiakan waktuku. Selama ini yang kupikirkan hanya bersenang-senang tanpa mempedulikan orang lain, merasa bahwa berbuat baik untuk sesama besok saja karena aku berpikir waktuku masih banyak. Aku lupa kematian juga dapat terjadi pada manusia yang masih belia, tak hanya untuk orang-orang yang berumur senja.
Kepergian There seperti mengingatkanku pada satu pertanyaan, apa yang sudah kuperbuat dalam hidupku? Tujuh belas tahun aku diberi kesempatan merasakan keindahan dunia oleh Tuhan, apa saja yang telah kuperbuat? Seingatku, aku hanya peduli pada diriku sendiri. Aku hanya memikirkan kesenanganku saja. Aku juga selalu mengeluh atas apa yang telah terjadi di hidupku. Tak pernah sedikitpun aku merasa bersyukur pada Tuhan bahwa aku telah diberi kesehatan, keselamatan, dan banyak kenikmatan lainnya yang terlupakan olehku. Aku hanya berfikir bagaimana cara agar aku dapat memperoleh kesenangan dan kepuasan tanpa memikirkan orang lain. Aku terlalu egois. Aku tak pernah memikirkan orang-orang di sekitarku yang kesulitan, teman-temanku yang tak memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan, dan orang-orang yang saat ini sedang terbaring sakit.
Terbesit sebuah keinginan untuk menjadi manusia yang lebih manusia. Aku ingin memperbaiki hidupku, aku tak ingin menyia-nyiakan waktuku. Aku ingin melakukan suatu hal kecil yang dapat bermanfaat bagi sesama. Aku juga akan berjanji untuk selalu bersyukur dan tak akan pernah mengeluh lagi seberat apapun hidup yang kujalani. Hidup adalah anugerah dari Tuhan, jangan pernah dikeluhkan dan disia-siakan.
Selamat jalan There, semoga kau tenang di sana. Doaku selalu menyertaimu. Ragamu memang telah pergi, tetapi ingatan tentangmu akan selalu hidup di hati kami semua. There, kepergianmu telah memberi pelajaran berharga bagi semua teman-temanmu yang masih di dunia. Semoga kau mendapat tempat layak di sisi-Nya. Tuhan, Kau benar-benar Mahakuasa. Sebuah kepergian yang telah Kau atur justru telah menyadarkanku untuk menghargai hidup ini.
Umur manusia memang misteri. Kita tak pernah tahu kapan kontrak kita di dunia ini berakhir. Sebagai remaja, selama ini aku selalu merasa umurku masih panjang dan aku selalu menyia-nyiakan waktuku. Selama ini yang kupikirkan hanya bersenang-senang tanpa mempedulikan orang lain, merasa bahwa berbuat baik untuk sesama besok saja karena aku berpikir waktuku masih banyak. Aku lupa kematian juga dapat terjadi pada manusia yang masih belia, tak hanya untuk orang-orang yang berumur senja.
Kepergian There seperti mengingatkanku pada satu pertanyaan, apa yang sudah kuperbuat dalam hidupku? Tujuh belas tahun aku diberi kesempatan merasakan keindahan dunia oleh Tuhan, apa saja yang telah kuperbuat? Seingatku, aku hanya peduli pada diriku sendiri. Aku hanya memikirkan kesenanganku saja. Aku juga selalu mengeluh atas apa yang telah terjadi di hidupku. Tak pernah sedikitpun aku merasa bersyukur pada Tuhan bahwa aku telah diberi kesehatan, keselamatan, dan banyak kenikmatan lainnya yang terlupakan olehku. Aku hanya berfikir bagaimana cara agar aku dapat memperoleh kesenangan dan kepuasan tanpa memikirkan orang lain. Aku terlalu egois. Aku tak pernah memikirkan orang-orang di sekitarku yang kesulitan, teman-temanku yang tak memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan, dan orang-orang yang saat ini sedang terbaring sakit.
Terbesit sebuah keinginan untuk menjadi manusia yang lebih manusia. Aku ingin memperbaiki hidupku, aku tak ingin menyia-nyiakan waktuku. Aku ingin melakukan suatu hal kecil yang dapat bermanfaat bagi sesama. Aku juga akan berjanji untuk selalu bersyukur dan tak akan pernah mengeluh lagi seberat apapun hidup yang kujalani. Hidup adalah anugerah dari Tuhan, jangan pernah dikeluhkan dan disia-siakan.
Selamat jalan There, semoga kau tenang di sana. Doaku selalu menyertaimu. Ragamu memang telah pergi, tetapi ingatan tentangmu akan selalu hidup di hati kami semua. There, kepergianmu telah memberi pelajaran berharga bagi semua teman-temanmu yang masih di dunia. Semoga kau mendapat tempat layak di sisi-Nya. Tuhan, Kau benar-benar Mahakuasa. Sebuah kepergian yang telah Kau atur justru telah menyadarkanku untuk menghargai hidup ini.
Minggu, 03 November 2013
Kimia
Apa yang terlintas di benak kalian bila mendengar kata 'kimia'? Sudah
pasti yang ada di pikiran kita adalah pelajaran MIPA yang penuh dengan
rumus molekul, reaksi, dan gambar atom atau molekul yang absurd. Selain
itu, kimia juga penuh dengan unsur-unsur yang tak pernah kita lihat
bentuk aslinya dan reaksi-reaksi yang cukup aneh. Bagaimana mungkin kita
mempelajari elektron padahal kita tak dapat melihatnya? Benar-benar
aneh. Sebagai siswa kelas IPA, kimia seringkali kutemui di kelas. Tak
tanggung-tanggung, dalam seminggu aku harus berhadapan dengan kimi
selama lima jam pelajaran. Benar-benar membosankan. Jujur, aku tidak
terlalu menyukai pelajaran kimia karena hafalannya cukup banyak dan
rumit. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur menjadi anak
kelas IPA, jadi aku harus tetap berjuang menghadapi kimia.
Sabtu, 26 Oktober 2013
Kost
Beberapa bulan yang lalu, orangtua saya membuat sebuah keputusan yang benar-benar mengejutkan. Mereka berencana agar aku dan kakakku hanya tinggal berdua sebagai anak kost. Awalnya aku benar-benar tak mau menerima rencana tersebut. Selama ini tak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku untuk menjadi anak kost meskipun jarak dari rumah ke sekolah sekitar 30 km.
Namun, rencana orangtuaku harus tetap berjalan. Aku tak punya pilihan lain selain tinggal berdua dengan kakakku. Kakakku, yang lebih tua dua puluh dua bulan dariku sepertinya tal dapat disebut kakak. Aku tak pernah dekat dengannya, berbicara pun sangat jarang. Ia orang yang keras kepala dan gampang marah, jadi aku malas berurusan dengannya. Hubungan antara aku dan dia bukanlah sebuah hubungan selayaknya adik dan kakak. Aku tak dapat membayangkan harus tinggal berdua dengannya tanpa orangtuaku.
Sudah sekitar satu bulan aku menjadi anak kost. Ada banyak hal yang kurasakan sangat berbeda. Dulu, setiap pulang dari sekolah, selalu ada sapaan hangat dari ibuku. Saat aku membuka pintu rumah, ia selalu menyambutku pulang dengan beberapa pertanyaan yang sebenarnya tidak penting, tapi benar-benar kurindukan sekarang. Ibuku pasti bertanya, bagaimana tadi di sekolah, tugas yang kukerjakan semalam mendapat nilai berapa, atau bagaimana tadi ulangan hariannya. Dulu aku merasa sedikit terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi skarang aku justru ingin mendapat pertanyaan itu lagi ketika membuka pintu. Dulu, sesore apapun aku pulang, selalu ada ayahku yang bersedia menjemputku. Aku tak akan merasa khawatir jam berapa aku pulang karena pasti ayahku akan menungguku dengan sabar.
Sayangnya, semua itu tak dapat lagi kurasakan. Aku hanya bertemu dengan orangtuaku sekali dalam seminggu, itu juga dalam waktu yang singkat. tak dapat mengobati rasa rinduku pada mereka selama seminggu.
Untungnya, terjadi perubahan besar mengenai hubunganku dengan kakakku. Ya, dengan segala kekerasan kepalanya dan keegoisannya, ia bersedia menjadi pengganti orangtuaku untuk sementara waktu. Memang dia sering menyebalkan, tapi setidaknya ia telah menunjukkan sedikit kepeduliannya padaku. Hubungan kami makin dekat, meski tak jarang pula kami bertengkar hanya karena masalah sepele.
Akan tetapi, itulah keluarga. Tidak masuk akal, tapi nyata. Pertanyaan dari ibuku yang dulu kuanggap mengganggu, kini kurindukan. Aku dulu selalu menjaga jarak dengan orangtuaku agar tidak dicap sebagai anak manja, tapi sekarang aku ingin menjadi anak mereka yang manja. Dulu kakakku selalu kuanggap sebagai monster yang mengganggu hidupku, tapi sekarang ialah pengganti orangtuaku.
Menjadi anak kost membuatku sadar satu hal, arti penting keluarga. Meski aku harus tinggal jauh dari orangtuaku, tapi aku yakin limpahan kasih mereka tak akan pernah habis. Perhatian mereka selalu untukku, meski cara mereka menunjukkannya sudah berbeda. Dan kakakku, aku tahu dia akan selalu menjagaku di sini, meski kadang ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya secara langsung padaku.
Namun, rencana orangtuaku harus tetap berjalan. Aku tak punya pilihan lain selain tinggal berdua dengan kakakku. Kakakku, yang lebih tua dua puluh dua bulan dariku sepertinya tal dapat disebut kakak. Aku tak pernah dekat dengannya, berbicara pun sangat jarang. Ia orang yang keras kepala dan gampang marah, jadi aku malas berurusan dengannya. Hubungan antara aku dan dia bukanlah sebuah hubungan selayaknya adik dan kakak. Aku tak dapat membayangkan harus tinggal berdua dengannya tanpa orangtuaku.
Sudah sekitar satu bulan aku menjadi anak kost. Ada banyak hal yang kurasakan sangat berbeda. Dulu, setiap pulang dari sekolah, selalu ada sapaan hangat dari ibuku. Saat aku membuka pintu rumah, ia selalu menyambutku pulang dengan beberapa pertanyaan yang sebenarnya tidak penting, tapi benar-benar kurindukan sekarang. Ibuku pasti bertanya, bagaimana tadi di sekolah, tugas yang kukerjakan semalam mendapat nilai berapa, atau bagaimana tadi ulangan hariannya. Dulu aku merasa sedikit terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi skarang aku justru ingin mendapat pertanyaan itu lagi ketika membuka pintu. Dulu, sesore apapun aku pulang, selalu ada ayahku yang bersedia menjemputku. Aku tak akan merasa khawatir jam berapa aku pulang karena pasti ayahku akan menungguku dengan sabar.
Sayangnya, semua itu tak dapat lagi kurasakan. Aku hanya bertemu dengan orangtuaku sekali dalam seminggu, itu juga dalam waktu yang singkat. tak dapat mengobati rasa rinduku pada mereka selama seminggu.
Untungnya, terjadi perubahan besar mengenai hubunganku dengan kakakku. Ya, dengan segala kekerasan kepalanya dan keegoisannya, ia bersedia menjadi pengganti orangtuaku untuk sementara waktu. Memang dia sering menyebalkan, tapi setidaknya ia telah menunjukkan sedikit kepeduliannya padaku. Hubungan kami makin dekat, meski tak jarang pula kami bertengkar hanya karena masalah sepele.
Akan tetapi, itulah keluarga. Tidak masuk akal, tapi nyata. Pertanyaan dari ibuku yang dulu kuanggap mengganggu, kini kurindukan. Aku dulu selalu menjaga jarak dengan orangtuaku agar tidak dicap sebagai anak manja, tapi sekarang aku ingin menjadi anak mereka yang manja. Dulu kakakku selalu kuanggap sebagai monster yang mengganggu hidupku, tapi sekarang ialah pengganti orangtuaku.
Menjadi anak kost membuatku sadar satu hal, arti penting keluarga. Meski aku harus tinggal jauh dari orangtuaku, tapi aku yakin limpahan kasih mereka tak akan pernah habis. Perhatian mereka selalu untukku, meski cara mereka menunjukkannya sudah berbeda. Dan kakakku, aku tahu dia akan selalu menjagaku di sini, meski kadang ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya secara langsung padaku.
Kamis, 24 Oktober 2013
Sebuah Cerita
Sore tadi, aku mendengar sebuah cerita dari seorang teman yang sedang melakukan praktik di sebuah rumah sakit umum tak jauh dari tempatku tinggal. Kemarin, ia menyaksikan bagaimana proses menyuntik mati seorang anak kecil. Seorang anak yang memang telah lama menderita sakit parah disuntik sehingga ia menemui ajalnya dengan cepat.
Jujur, aku tak dapat membayangkan kejadian itu. Seorang anak yang seharusnya dapat merasakan kebahagiaan, harus merelakan kehidupannya. Ia tak lagi mampu merasakan senangnya bermain bersama teman-teman, tak akan pernah mencicipi bangku sekolah, dan tak dapat menikmati limpahan kasih sayang dari orangtuanya.
Terlintas di benakku mengapa orangtua anak itu memutuskan untuk menyuntik mati anaknya. Bukankah setiap orangtua akan melakukan apa saja demi anaknya? Orangtua tak akan menyerah demi kebahagiaan anaknya. Akan tetapi, mengapa orangtua anak ini lebih memilih untuk menyuntik mati anak kesayangannya?
Aku jadi berpikir, aku cukup beruntung dapat merasakan kehidupan hingga saat ini. Aku dapat mencicipi bangku sekolah, melakukan kejahilan sebagai seorang siswa, tertawa bersama teman-teman sebaya, dan masih banyak lagi. Aku beruntung, Tuhan masih mempercayakan waktu-Nya untukku. Namun, apa yang sudah aku lakukan dalam hidup ini?
Ingatanku melayang pada semua perbuatan yang telah kulakukan selama ini. Tak pernah sedikitpun aku berbuat sesuatu untk sesama. Semua yang kulakukan hanya untuk diri sendiri, tak pernah untuk orang lain. Aku jadi malu pada diri sendiri dan Tuhan. Aku telah diberi kesempatan untuk berkarya dalam nama-Nya, tetapi aku tak pernah menggunakan kesempatan itu. Aku telah menyia-nyiakan waktuku selama ini.
Tuhan, aku benar-benar menyesal. Aku adalah manusia yang benar-benar egois. Mungkin, cerita mengenai anak yang disuntik mati adalah rencana-Mu agar aku lebih banyak bersyukur dan tidak menyia-nyiakan waktuku di dunia ini. Terima kasih Tuhan, Kau telah menyadarkanku. Bimbing aku agar segala yang kulakukan dapat bermanfaat bagi orang lain, agar tak sia-sia hidupku di dunia-Mu.
Jujur, aku tak dapat membayangkan kejadian itu. Seorang anak yang seharusnya dapat merasakan kebahagiaan, harus merelakan kehidupannya. Ia tak lagi mampu merasakan senangnya bermain bersama teman-teman, tak akan pernah mencicipi bangku sekolah, dan tak dapat menikmati limpahan kasih sayang dari orangtuanya.
Terlintas di benakku mengapa orangtua anak itu memutuskan untuk menyuntik mati anaknya. Bukankah setiap orangtua akan melakukan apa saja demi anaknya? Orangtua tak akan menyerah demi kebahagiaan anaknya. Akan tetapi, mengapa orangtua anak ini lebih memilih untuk menyuntik mati anak kesayangannya?
Aku jadi berpikir, aku cukup beruntung dapat merasakan kehidupan hingga saat ini. Aku dapat mencicipi bangku sekolah, melakukan kejahilan sebagai seorang siswa, tertawa bersama teman-teman sebaya, dan masih banyak lagi. Aku beruntung, Tuhan masih mempercayakan waktu-Nya untukku. Namun, apa yang sudah aku lakukan dalam hidup ini?
Ingatanku melayang pada semua perbuatan yang telah kulakukan selama ini. Tak pernah sedikitpun aku berbuat sesuatu untk sesama. Semua yang kulakukan hanya untuk diri sendiri, tak pernah untuk orang lain. Aku jadi malu pada diri sendiri dan Tuhan. Aku telah diberi kesempatan untuk berkarya dalam nama-Nya, tetapi aku tak pernah menggunakan kesempatan itu. Aku telah menyia-nyiakan waktuku selama ini.
Tuhan, aku benar-benar menyesal. Aku adalah manusia yang benar-benar egois. Mungkin, cerita mengenai anak yang disuntik mati adalah rencana-Mu agar aku lebih banyak bersyukur dan tidak menyia-nyiakan waktuku di dunia ini. Terima kasih Tuhan, Kau telah menyadarkanku. Bimbing aku agar segala yang kulakukan dapat bermanfaat bagi orang lain, agar tak sia-sia hidupku di dunia-Mu.
Rabu, 23 Oktober 2013
Menjadi Teman
Dibutuhkan kepercayaan untuk mencari seorang teman. Percaya ia tak akan pernah membeberkan rahasia kita, percaya ia tak akan mengkhianati kita, dan percaya ia benar-benar teman yang baik. Ia juga harus selalu mengerti kita, menemani kita kapan pun, menghibur saat kita sedih, dan masih banyak lagi yang harus dilakukan seorang teman untuk kita.Cukup egois memang, karena kita menuntut teman kita melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan. Akan tetapi, pernahkah kita berpikir, apakah kita telah menjadi sosok seperti yang teman kita inginkan? Ternyata, tidak hanya mencari seorang teman saja yang sulit. Menjadi seorang teman juga lebih menyulitkan.
Langganan:
Postingan (Atom)